MENIKAH MENANAM

MENIKAH MENANAM

Kemarau tahun 2019 ini sudah memasuki bulan yang ke 7. Sejak bulan April hujan sudah berhenti dan memang bulan April sudah memasuki bulan kemarau. Sampai 31 Oktober 2019 hujan belum juga turun di Wilayah Kecamatan Samigaluh. Tahun ini kemarau lebih panjang dari tahun kemarin, rumput-rumput mengering begitu juga tanaman berbatang keras, tanaman terlihat meranggas dihampir seluruh wilayah Samigaluh.

Cakupan kekurangan air bersih utk tahun ini lebih luas dari tahun sebelumnya, dari 7 desa yang ada 6 Desa diantaranya butuh droping air bersih dan 5 desa butuh droping secara berkala disetiap satu minggu sekali dibak bak penampungan Air bersih yg tersebar paling tidak di 32 pedukuhan. Apabila hanya mengandalkan droping air niscaya masyarakat tidak bisa memasak. sehingga secara mandiri masyarakat harus "ngangsu" ke sumber sumber air dengan jarak cukup jauh dan harus mengantri karena debit yang makin mengecil.

Kondisi ini tentu sangat mengganggu perekonomian dan kesejahteraan, karena waktu mereka habis untuk berburu air sehingga tidak sempat melakukan kegiatan produksi.

Banyak kelompok peduli terhadap kondisi kekurangan air bersih di Samigaluh. Namun problem kekurangan armada tanki air dan wilayah yang berbukit menjadikan masyarakat terlambat menerima pasokan air bersih. Meski demikian droping tangki air bersih sangat dibutuhkan, dan merupakan langkah darurat yang bisa dilakukan.

Perlu ada langkah langkah strategis untuk mengatasi permasalahan tahunan ini,  antara lain :

  1. Mengoptimalkan sumber mata air yang ada melalui antara lain pembuatan bak penampungan, sistem distribusi yang merata, manajemen pengelolaan yang baik bisa juga dengan menggandeng Bumdes, penggunaan air yang efisien misall dg meteran, dll
  2. Melestarikan dan meningkatkan debit air.

Warga samigaluh dari masa ke masa merasakan adanya penurunan debit sumber air, lebih lebih dimusim kemarau.

Kesadaran akan kebutuhan solusi pemenuhan kebutuhan air bersih yang berkelanjutan inilah yang memunculkan "Gerakan Menikah Menanam". Gerakan ini mengajak kepada calon pengantin untuk berkontribusi dalam pelestarian alam dengan cara menyumbangkan bibit tanaman secara sukarela untuk ditanam di lahan lahan yang dapat mendukung sumber mata air. Disamping tanaman yang digunakan untuk menyimpan air bisa juga tanaman buah buahan untuk mendukung agrowisata sebagai pendukung kawasan strategis pariwisata nasional Borobudur.