SEJARAH
Dalam tradisi lisan, nama Samigaluh disebutkan berasal dari nama dua tokoh lokal yaitu Nyai Sami dan Kiai Galuh. Pegunungan Samigaluh memiliki warisan peninggalan Siwa Budha seperti situs puncak di Pringtali sebagai satu-satunya bagian candi yang masih utuh di wilayah Kabupaten Kulon Progo. Selain situs arkeologis, terdapat juga beberapa makam atau pepunden atau petilasan para ajar yang berada di barisan puncak Pengunungan Trajumas.
Posisi dan letak wilayah Samigaluh berada pada pertemuan rangkaian Pegunungan Trajumas dan Pegunungan Kelir yang pada masa awal abad ke-19 menjadi akses penting perlintasan pasukan Diponegoro dalam Perang Jawa di perbatasan Mataram dengan Kedu dan Bagelen. Setelahnya, Samigaluh juga menjadi pusat dari ibu kota kabupaten Kalibawang, yang akhirnya kemudian pindah ke pinggiran Sungai Progo pada pertengahan abad ke-19. Pada periode revolusi, A.H Nasution (1989) menyebutkan bahwa Samigaluh pernah direncanakan menjadi tempat pengungsian.
Presiden Soekarno jika ibu kota Republik Indonesia di Yogyakarta dikuasai oleh NICA. Pernyataan A.H Nasution tersebut “Kami melewati Samigaluh, yang dulunya dipersiapkan sebagai tempat pertama bagi Presiden, Pasanggrahan dan sekitarnya telah rusak terbakar, hari-hari pertama sudah dapat serangan udara dari Belanda. Rupanya telah bocor rencana itu”.
Di atas. A.H Nasution juga menyinggung tentang pengeboman di pusat Kapanewon Samigaluh yang terjadi pada 7 Maret 1949. Selain A.H Nasution, pejabat tinggi militer Republik Indonesia yang pernah bermarkas di Samigaluh adalah Kolonel T.B Simatupang. Ia bersama pasukannya tinggal di rumah milik Dukuh Karyoutumo di Banaran (Banjarsari, Samigaluh).
GAMBARAN UMUM
Di Kapanewon Samigaluh, terdapat tujuh kalurahan baru hasil penggabungan beberapa kalurahan lama. Sebelum Tahun 1948, Kapanewon Samigaluh memiliki 16 kalurahan dan setelah penggabungan jumlahnya tinggal tujuh kalurahan. Terdapat satu kalurahan dengan nama yang baru, namun tidak dari hasil gabungan yaitu kleben yang hanya berubah nama menjadi Kebonharjo.
Berikut merupakan nama-nama kalurahan baru di Kapanewon Samigaluh yang tercatat oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta pasca Tahun 1948:
- Kalurahan Ngargosari (gabungan dari Kalurahan Ngaliyan dan Ngargowahono);
- Kalurahan Pagerharjo (gabungan dari Kalirejo, Gegerbajing, dan Plono);
- Kalurahan Banjarsari (gabungan dari balong dan Jomblangan);
- Kalurahan Kebonharjo (awalnya bernama Kalurahan Kleben);
- Kalurahan Sidoharjo (gabungan dari Madigondo, Sulur Lor, dan Gorolangu);
- Kalurahan Purwoharjo (gabungan dari Kalurahan Tukharjo dan Klepu);
- Kalurahan Gerbosari (gabungan dari Kalurahan Samigaluh, Menggermalang, dan Kemiriombo).
Dalam peran revolusi, Panewu Samigaluh yaitu Projo Narmodo bersama perangkatnya -Projo Winarno- selalu mempropaganda lurah-lurah untuk mendukung revolusi kemerdekaan. Panewu Projo Narmodo kemudian mengadakan pelatihan untuk pembentukan Datasemen Polisi Pamong Projo (DP3). Pelatihan yang diikuti oleh para perangkat kapanewon dan kalurahan direncanakan selama tiga hari (7-9 Maret 1949) di rumah R. Ng. Somaijoyo (Behi Soma). Lokasi pelatihan tersebut dibom oleh pesawat Belanda dan mengakibatkan jatunya beberapa korban, salah satunya adalah pegawai layan telepon kapanewon bernama Kromowito.
Peristiwa bom menimbulkan ketakutan yang berkepanjangan sebagian masyarakat. Dengan situasi tersebut, Panewu Samigaluh yaitu Rosjid Hadipranoto melakukan usaha untuk kebangkitan Kapanewon Samigaluh setelah Bom Samigaluh. Ia mendirikan pusat Oesaha Ekonomi Rakyat (POESER) yang beranggotakan para lurah se-Samigaluh dengan beberapa agenda, sebagai berikut:
- Melebarkan jalan Kalurahan Purwoharjo ke Kalurahan Pagerharjo pada tahun 1955-1957 yang akhirnya diresmikan sebagai jalan raya Samigaluh oleh Sultan Hamengkubuwono IX pada tahun 1957.
- Menganjurkan agar setiap warga Kapanewon Samigaluh menanam bibit cengkih, dari jumlah bibit 7.000 bibit yang diusahakan oleh tujuh lurah dari Purwokerto
Daerah Kecamatan Samigaluh merupakan kawasan perbukitan atau pegunungan dengan luas 6.929,31 hektar. Luas tersebut adalah 11,81% dari seluruh wilayah Kabupaten Kulon Progo. Kecamatan Samigaluh adalah nomor dua terluas di Kabupaten Kulon Progo setelah Kecamatan Kokap. Topografi Kecamatan Samigaluh adalah satu-satunya daerah di Kabupaten Kulon Progo yang tidak memiliki fisiografi dataran rendah. Wilayah Kecamatan Samigaluh memiliki kemiringan <2 derajat seluas 113,08 hektar atau 0,84% dan tidak memiliki wilayah yang berada di ketinggian 0-100 meter. Sementara wilayah samigaluh yang berada di antara ketinggian 100- lebih dari 500 meter seluas 3.162,15 hektar dan yang berada di ketinggian antara 100-500 meter serta lebih dari 500 meter (>500 meter) adalah 3.766,85 hektar. Batas-batas administratif Kecamatan Samigaluh, sebagai berikut:
- Selatan : Kecamatan Girimulyo
- Barat: Kabupaten Purworejo
- Utara: Kabupaten Magelang
- Timur: Kecamatan Kalibawang
Dalam pemerintah administratif, Kecamatan Samigaluh memiliki jumlah dukuh terbanyak di seluruh Kulon Progo, yaitu 106 padukuhan dari 7 kalurahan, serta jumlah 209 RW, dan 448 RT. Pembangunan penting di Samigaluh yang perlu disebutkan adalah pengerjaan objek wisata Puncak Suroloyo yang telah dilakukan sejak Tahun 1950-an. Pembangunan tersebut kemudian terus berlangsung sampai akhir Tahun 1980-an. Selain pariwisata, potensi pertambangan di Samigaluh adalah tanah liat atau trass, yang sampai tahun 1970 belum dikelola. Hal itu karena pengelolaan wilayah yang masih fokus pada pertanian dan perkebunan.
Pembangunan penting yang dilakukan pada Tahun 1974 di Samigaluh adalah proyek pendirian puskesmas yang sempat ditinjau oleh komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kulon Progo pada tanggal 29 Agustus 1974. Pada tahun yang samajuga dibangun kantor-kantor milik pemerintah, jalan raya Dekso-Samigaluh, dan pasar Samigaluh.
Sementara itu, pembangunan sektor pertanian dan perkebunan di wilayah Samigaluh mulai bergeliat ketika tanaman cengkih menjadi primadona masyarakat pada tahun 1980-an. Lahan seluas 870 hektar pada tahun 1984 digunakan untuk menanam poon cengkih, dan pada tahun berikutnya ditambah luasnya menjadi 143 hektar hampir sama dengan wilayah Kalibawang yang luasnya mencapai 870 hektar dan penambahan lahan seluas 214 hektar. Selain cengkih, seluas 424 hektar digunakan untuk menaman kopi, 26 hektar untuk lada, dan 57 hektar untuk tanaman panili. Pemerintah melului Bagian (jawatan) Koperasi Kabupaten Kulon Progo mendukung modal KUD Samigaluh untuk dapat membeli cengkih dari para petani.
Garapan persawahan di Samigaluh pada tahun 1983 dilakukan pada luas lahan 972 2657 hektar, tanah tegalan 2.635.0824 hektar, Usaha pertanian di Samigaluh pada tahun 1984 sampai awal tahun 1990-an masih difokuskan melalui usaha diversifikasi dan intensifikas termasuk model tumpangsari lahan palawija dan sayuran pada lahan kering dan kemiringan yang curam.
Jumlah kepadatan penduduk di Kecamatan Samigaluh pada tahun 1983 adalah terendah di Kabupaten Kulon Progo 433 jiwa per km dengan jumlah penduduk 30.068 jiwa. Dari jumlah tersebut, menielang tahun 1990-an sebagian kecil dari mereka telah mendapatkan listrik non-PLN jalur Dekso-Samigaluh yang disokong oleh Pemerintah Kecamatan Samigaluh. Jumlah penduduk di Kecamatan Samigaluh Tahun 1979 sebanyak 30.402 jiwa, Tahun 1980 sebanyak 29.620 jiwa, Tahun 1981 sebanyak 29.804 jiwa, Tahun 1982 sebanyak 29.843 jiwa, dan 1983 sebanyak 30.068 jiwa.
Dalam hal keagamaan, Kecamatan Samigaluh memiliki jumlah masjid tertinggi di seluruh Kabupaten Kulon Progo pada tahun 1982 yaitu 54 buah. Untuk jumlah tempat ibadah agama lainnya adalah 3 buah gereja dan 4 kapel Katolik. Sampai tahun 1982 belum disebutkan adanya tempat ibadah milik umat Kristen dan agama lainnya.
Penyelenggaraan pendidikan formal di Kecamatan Samigaluh per tahun 1983 terpenuhi dengan adanya 4 TK dengan 84 siswa, 33 SD dengan 4.708 siswa, 10 SMTP dengan 1.696 siswa, 1 SMA dengan 65 siswa, dan 1 SMEA dengan 105 siswa. Untuk jenis sekolah tingkat atas yang digemari ole masyarakat Kulon Progo seperti SPG (Sekolah Pendidikan Guru) belum tersedia di Samigaluh.
Sarana komunikasi untuk masyarakat Samigaluh pada tahun 1984/1985 terpenuhi dengan pembangunan kantor pos dan giro pembantu. Khusus untuk hubungan telekomunikasi pemerintah kecamatan dengan kabupaten pada tahun 1985 telah terselenggara dengan adanya jaringan kabel atau kawat telpon,
Dalam hal kesehatan masyarakat, wilayah Samigaluh sejak tahun 1979 sampai tahun 1984 mengalami penularan wabah penyakit malaria. Desa Pagerharjo yang berbatasan dengan Kabupaten Purworejo memiliki kasus Annual Parasite Incidence (API) yang begitu tinggi. Jumlah tenaga kader kesehatan dari PMDK dan UKS di Kecamatan Samigaluh mengalami peningkatan per tahunnya seperti 240 orang pada tahun 1981 dan sempat menurun menjadi 156 orang pada tahun 1982 serta meningkat menjadi 236 orang pada tahun 1983.
Pembangunan kesejahteraan masyarakat di Samigaluh yang diperankan oleh PKK dengan dana bantuan Impres tahun 1980/1981 adalah pengadaan mesin jahit dan apotik hidup untuk desa (1981-1982), pengadaan peternakan kelinci dan kambing, dan pembangunan kios PKK. Pada anggaran tahun 1983/1984 di Kecamatan Samigaluh diadakan peningkatan jumlah piaraan kelinci dan kambing masing-masing 40 ekor. Progran PKK disebutkan berhasil di Kalurahan Neargosari dan Kebonharjo pada tahun 1988/1989 ketika dipadukan dengan Program Peningkatan Peranan Wanita Menuiu Keluarga Sehat Dan Sejahtera (P2WKSS).
Peningkatan kesejahteraan masyarakat Samigaluh juga dilakukan oleh pemerintah melalui program terpadu rumah sehat dan layak huni, di Kalurahan Kebonharjo (16/SK) dan Kalurahan Banjarsari (16/SK). Pembenahan fasilitas pemerintahan juga dilakukan dengan rehabilitasi kantor Kecamatan Samigaluh pada anggaran tahun 1985/1986. Pemerintahan juga mendorong pertumbuhan industri personal dan kelompok, salah satunya adalah penyulingan minyak atsiri, Berikut daftar Panewu/Camat Kapanewon Samigaluh:
- 1949-1954: Projo Narmodo (dibantu Projo Winarno)
- 1954-1959: Rosjid Hadi Prayitno
- 1959-1964: Projo Pangaji/Pangaji
- 1964-1967: Raden Panewu Projodirjo
- 1967-1969: Raden Wedana Radiro Winata (Suraja)
- 1969-1973: Drs. Soebardi
- 1973-1978: Projo Sujilan
- 1981-1984: Drs. Kadir Supranoto
- 1984-1987: Agung Sudrajat
- 1987-1990: Drs. Suparjo
- 1990-1999: Drs. Kamsun
- 1999-2022: Drs. Anang Suharso
- 2002-2004: Jumanto
- 2004-2006: Muhajir
- 2006-2009: Rudi Widyatmoko, S.Sos.
- 2009-2011: Latnyana, S.Ag., M.M.
- 2011-2013: Drs. Ariyadi, M.M.
- 2013-2015: Drs. Wahyu Pujiyanto
- 2015-2017: Setiawan Tri Widada, S.Sos.
- 2017-2019: Triyanto Raharjo, S.Sos., M.Si.
- 2019-2021: Sugimo, S.IP.
- 2021-2023: Ridwan Usman, S.H., M.M.
- 2023-2025: Suryantoro, S.I.P., M.Si.
- 2025 : Senija, S.I.P., M.Si.
Dokumentasi Klik disini